Riset

Materi Riset kelas X dan XII IPS

Modernisasi

Modernisasi materi kelas XII

Blog Guru Sosiologi

Blog Guru Sosiologi Guru Inovatif

Kamis, 16 Januari 2025

KONFLIK SOSIAL

 

DEFINISI KONFLIK SOSIAL 



Konflik sosial yang terjadi di masyarakat sangat beragam, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Konflik berasal dari Bahasa Latin, yaitu configure yang artinya saling memukul. Beberapa pendapat ahli tentang definisi konflik sosial antara lain:

a. Soerjono Soekanto
Konflik adalah suatu proses sosial individu atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai ancaman dan/atau kekerasan.

b. Robert M.Z. Lawang
Konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, dan kekuasaan di mana tujuan mereka tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.

c. Berstein
Konflik adalah suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik ini dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif saat melakukan interaksi dengan orang lain.

d. Ensiklopedia Nasional Indonesia
Menguraikan bahwa konflik muncul karena adamya benturan antara dua unsur dalam masyarakat yang mengharuskan salah satunya berakhir. 
 
Dalam konflik sosial terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh. Pandangan tersebut berusaha mengidentifikasi konflik sosial. Beberapa pandangan mengenai konflik sosial yang dikutip dari Haryanto (2011) dapat kalian baca pada penjelasan selanjutnya.

a. Robbin
Robbin memandang konflik menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut antara lain:

1) Pandangan Tradisional
Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang buruk, bersifat negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik ini merupakan hasil disfungsional akibat komunikasi yang kurang baik dan kurang keterbukaan antara individu dalam masyarakat.

2) Pandangan Hubungan Manusia
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi dalam kelompok atau organisasi di masyarakat. Dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik. Oleh karena itu konflik harus dijadikan motivasi untuk melakukan perubahan dalam suatu kelompok atau organisasi.

3) Pandangan Interaksionis
Pandangan ini cenderung mendorong munculnya konflik dalam kelompok atau organisasi. Menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap kritis, kreatif, dan semangat dalam sebuah kelompok atau organisasi. 
 
b. Stoner dan Freeman
Stoner dan Freeman memberikan dua pandangan mengenai konflik sosial yaitu:

1) Pandangan Tradisional
Pandangan ini menganggap bahwa konflik dapat dihindari dengan cara meminimalisasikan munculnya konflik dalam sebuah kelompok atau organisasi. 

2) Pandangan Modern
Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik tidak dapat dihindari. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strustur organisasi, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi, nilai-nilai, dan sebagainya. 
 
c. Myers
Menurut Myers pandangan terhadap konflik sosial dibagi menjadi dua, yaitu: 

1) Pandangan Tradisional
Pandangan ini menganggap konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Dalam pandangan ini menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. 

2) Pandangan Kontemporer
Pandangan ini menganggap konflik merupakan suatu yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia.




FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK SOSIAL

Penyebab terjadinya konflik sosial dalam masyarakat dilatarbelakangi beberapa faktor, diantaranya:  
a. Adanya perbedaan antari ndividu 
b. Adanya perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda-beda. 
c. Adanya perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok. 


TEORI-TEORI KONFLIK SOSIAL

Teori Konflik Menurut Lewis A. Coser 
Menurut Coser, konflik yang terjadi di masyarakat dikarenakan adanya kelompok lapisan bawah yang semakin mempertanyakan legitimasi dari keberadaan distribusi sumber-sumber langka (Ranjabar, 2013). Coser menilai bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif, namun konflik dapat mempererat dan menjalin kerukunan dalam suatu kelompok. Suatu kelompok dapat berlangsung lama atau cepat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Dikutip dari Ranjabar (2013), ada tiga faktor yang mempengaruhi lama tidaknya suatu konflik di masyarakat, yaitu:
a. Luas sempitnya tujuan konflik 
b. Adanya pengetahuan maupun kekalahan dalam konflik 
c. Adanya peranan pemimpin dalam memahami biaya konflik dan persuasi pengikutnya. 
 
Konflik dapat menjaga hubungan antarkelompok dan memperkuat kembali identitas kelompok. Adapun manfaat konflik menurut Coser adalah:
a. Konflik dapat menjadi media untuk berkomunikasi. 
b. Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok. 
c. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut dan solidaritas tersebut dapat mengantarkan kepada aliansi dengan kelompok lain. 
d. Konflik menyebabkan anggota masyarakat yang terisolasi menjadi berperan aktif.

Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua macam, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis.

a. Konflik Realistis
Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konflik realistis ialah konflik yang berasal dari kekecewaan individu atau kelompok atas tuntutan maupun perkiraan-perkiraan keuntungan yang terjadi dalam hubungan sosial. Contoh konflik realistis, misalnya para karyawan yang melakukan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji.

b. Konflik Non-Realistik
Konflik non-realistis merupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang bertentangan, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan (Haryanta, 2012). Sebagai contoh konflik non-realistis ialah pada masyarakat buta huruf ada ilmu gaib yang digunakan untuk melakukan pembalasan. 
 
Teori Konflik Menurut Karl Marx
Karl Marx memiliki pandangan tentang konflik sosial sebagai pertentangan kelas. Masyarakat yang berada dalam konflik dikuasai oleh kelompok dominan. Adanya pihak yang lebih dominan muncul pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai. Kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda atau bertentangan sehingga dapat menimbulkan konflik.

Fakta-fakta menurut pandangan teori Karl Marx (Ranjabar, 2013) antara lain: 
a. Adanya struktur kelas dalam masyarakat 
b. Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang berada dalam kelas yang berbeda. 
c. Adanya pengaruh yang besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang. 
d. Adanya berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial.

Karl Marx dikutip dari Haryanto (2011), menguraikan tentang adanya kelas objektif. Kelas ini dapat dibagi atas kepentingan manifes dan kepentingan laten. Oleh karena itu, setiap sistem sosial harus dikoordinasi dan mengandung kepentingan laten yang sama. Kelompok tersebut biasa dikenal dengan istilah kelompok semu. Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), kelompok semu adalah kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sifatnya sementara, tanpa struktur, ikatan, kesadaran, dan aturan. Kelompok semu ini terdiri atas kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai. 
 
Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf
Bagaimana pendapat Dahrendorf mengenai konflik sosial? Pada awalnya, Dahrendorf melihat teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu konflik dan kerja sama. Berdasarkan pemikiran tersebut, Dahrendorf menyempurnakan dan menganalisis dengan fungsionalisme struktural, agar mendapat teori konflik yang lebih baik.

Dehrendorf menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri kontemporer. Perjuangan kelas dalam masyarakat moderen berada pada pengendalian kekuasaan. Dehrendorf mengkomunikasikan pemikiran fungsional mengenai struktur dan fungsi masyarakat dengan teori konflik antarkelas sosial. Dehrendorf tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang statis, namun dapat berubah oleh adanya konflik di masyarakat. 

Selasa, 27 Februari 2024

Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

 

                                           Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Menurut Mardikanto dalam Dedeh Maryani dan Ruth Roselin E. Nainggolan (2019: 8-10), tujuan dari pemberdayaan masyarakat yaitu:

1. Perbaikan kelembagaan (Better institution)

Dengan memperbaiki kegiatan yang dilakukan, diharapkan dapat memperbaiki kelembagaan. Kelembagaan yang baik akan mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan.

2. Perbaikan Usaha (Better Business)

Perbaikan kelembagaan diharap akan memperbaiki bisnis yang dilakukan sehingga mampu memberikan manfaat kepada anggota lembaga tersebut dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

3. Perbaikan Pendapatan (Better Income)

 

Perbaikan bisnis diharap dapat memperbaiki pendapatan seluruh anggota lembaga, termasuk masyarakat.

4. Perbaikan Lingkungan (Better Environment)

Perbaikan pendapatan diharap dapat memperbaiki lingkungan fisik dan sosial karena kerusakan lingkungan kerap disebabkan oleh kemiskinan atau pendapatan yang terbatas.

5. Perbaikan Kehidupan (Better Living)

Pendapatan dan lingkungan yang baik akan memperbaiki standar kehidupan masyarakat. Ini dapat dilihat dari tingkat kesehatan, pendidikan, dan daya beli.

6. Perbaikan Masyarakat (Better Community)

Jika setiap keluarga mempunyai kehidupan yang baik, akan tercipta kehidupan masyarakat yang lebih baik pula.


TUGAS :

1. Bagaimana pendapat kalian apakah kegiatan pemberdayaan yang kalian lakukan sesuai dengan tujuan pemberdayaan? berikan penjelasan !

2. Bagaimana dampak yang bisa ditimbulkan kegiatan yang kalian lakukan terhadap kehidupan lingkunagn sekitar anda!

Senin, 26 Februari 2024

HASIL KARYA VIDEO KELAS X-B

                    HASIL KARYA VIDEO KELAS X-B MATERI LEMBAGA SOSIAL 


Silahkan simak videonya klik berikut:  KELAS X-B (BIMA )



Penjelasan video simak link berikut : 




simak video lengkapnya : kelas X-B (lembaga Ekonomi )




simak video lengkapnya : kelas X-B ( lembaga keluarga)


simak video lengkapnya : kelas X-B (lembaga Politik)















Jumat, 23 Februari 2024

HASIL KARYA SISWA KELAS X-A

                              HASIL KARYA SISWA KELAS X-A MATERI LEMBAGA SOSIAL 


Silahkan simak videonya pada link berikut : KELAS X-A (TIARA DKK)


Rabu, 21 Februari 2024

HASIL KARYA KELAS XI-C MATERI KONFLIK

                                                         HASIL KARYA KELAS XI-C 


Silahkan klik alamat berikut videonya : KELAS XI-C (DEVAN, TENGKU,TRI) 



Silahkan klik alamat berikut video lengkapnya : KELAS XI-C (DINA,PUTRI,VITA)



Silahkan klik alamat berikut video lengkapnya :KELAS XI-C (RESTU&NURUL AINI F)


VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN KLIK LINK BERIKUT: 






VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN KLIK ALAMAT BERIKUT : 


                                    VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN KLIK ALAMAT BERIKUT :


  VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN KLIK ALAMAT BERIKUT :



VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN DI KLIK : 


VIDEO LENGKAPNYA SILAHKAN KLIK : KELAS XI-C (DEWI &REVA)





HASIL KARYA SISWA KELAS XI-E MATERI KONFLIK

                                               HASIL KARYA SISWA KELAS XI-E


  Video lengkap silahkan klik : KELAS XI-E (HANI&SINTA)



 Video lengkap silahkan klik : KELAS E (YUNIA&SITI NITA)


Video lengkap silahkan klik : KELAS XI-E (VIDHIA &DEVI)


Video lengkap silahkan klik : KELAS XI-E (DWI SALSA &ANISA)


                              Video lengkap silahkan klik :  KELAS XI-E : NIKMATIN & MAUDI)



                     Video lengkap bisa di klik link berikut: KELAS XI-E : (NAFIN DAN NAFA)


                       Video lengkap bisa di klik link berikut:KELAS XI-E (OKTA &ELOX)



                                Video lengkap silahkan klik : KELAS XI_E (ANANTA&FIKA)



                            Video lengkap silahkan klik : (KELAS XI-E : SETYA &NILNA)

                       Video lengkap silahkan klik :   KELAS XI- E(UMI HANIK& DIANA)


Video lengkap silahkan klik : KELAS XI-E (CHANDA &NABILA)


Selasa, 20 Februari 2024

KARYA SISWA MATERI KONFLIK KELAS XI -F

 KUMPULAN HASIL KARYA SISWA TERKAIT MATERI KONFLIK YANG BERUPA PODCAST 

Silahkan beri komentar dan masukan yang membangun, sekecil apapun karya  kalian layak dihargai !!!



video lengkapnya silahkan klik :    KELAS XI-F (BISAI PODCAST)




   Video lengkap silahkan simak klik link berikut :  KELAS XI-F (RUANG ZENA) 




       Video lengkap silahkan simak klik link berikut :    KELAS XI-F (SUARA DAMAI)




Video lengkapnya silahkan simak dan klik link berikut: 









Kamis, 09 November 2023

METODE PENGUMPULAN DATA

 Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data terkait permasalahan penelitian yang diambilnya. Prosedur ini sangat penting agar data yang didapatkan dalam penelitian berupa data yang valid, sehingga menghasilkan kesimpulan yang juga valid.

Sebelum pengumpulkan data, biasanya seorang peneliti memiliki dugaan kesimpulan sementara. Dugaan sementara itu disebut dengan hipotesis.

Hipotesis inilah yang ingin dibuktikan oleh peneliti secara empiris dalam penelitiannya. Maka dari itu, untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis ini peneliti perlu mengumpulkan data dengan cara yang tepat.

Data yang diambil dan teknik pengambilan datanya tidak sembarangan, tetapi ada prosedurnya tersendiri.

Pengumpulan data sendiri biasanya ditentukan oleh variabel-variabel penelitian. Setelah data terkumpul, selanjut diadakan pengolahan data, jadi data tidak akan memiliki arti apabila tidak dilakukan pengolahan data.

Berbicara mengenai data, ada banyak sekali contoh-contoh data dalam penelitian, seperti angka, huruf, gambar, simbol, suara, situasi, bahasa, dan lainnya.

Data-data tersebut akan digunakan apabila masih berkaitan dengan kejadian, konsep, atau objek yang akan diteliti. Data sendiri dibedakan menjaga beberapa bagian.

Berikut jenis data yang perlu Anda ketahui sebelum melakukan penelitian.

1. Menurut cara memperolehnya

Apabila dilihat dari cara memperolehnya, data dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu data primer dan data sekunder.

a. Data primer

Adalah data yang didapatkan oleh peneliti secara langsung dari subjek atau objek penelitian, misalkan berupa rekaman hasil wawancara.

b. Data sekunder

Adalah data yang tidak didapatkan secara langsung oleh peneliti, data di sini bisa berupa dokumen atau arsip-arsip yang dimiliki oleh lembaga atau seseorang yang menjadi subjek penelitian.

2. Data menurut sumbernya

Apabila dilihat dari sumbernya data dibedakan menjadi 2, yaitu data internal dan data eksternal.

a. Data internal

Adalah data yang menggambarkan kegiatan atau keadaan yang terjadi di dalam suatu lembaga atau instansi tempat penelitian.

b. Data eksternal

Adalah data yang menggambarkan kegiatan atau keadaan yang terjadi di luar suatu lembaga atau instansi tempat penelitian.

3. Menurut sifatnya

Apabila dilihat dari sifatnya data dibedakan menjadi 2, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.

a. Data kualitatif

Adalah data yang didapatkan dalam penelitian yang bukan berbentuk angka.

b. Data kuantitatif

Adalah data yang didapatkan dalam penelitian yang berbentuk angka-angka.

4. Menurut waktu pengumpulan data

Apabila dilihat dari waktu pengumpulannya data dibagi menjadi 2, yaitu time series dan cross section.

a. Time series/data berkala

Adalah data yang menggambarkan suatu perkembangan suatu peristiwa atau kegiatan, dan didapatkan dengan cara mengumpulkannya dari waktu ke waktu.

b. Cross section/insidentil

Adalah data yang menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa yang dikumpulkan pada suatu waktu saja.

Pada pembahasan selanjutnya kami akan membahas mengenai metode pengumpulan data. Jadi Anda harus menyimaknya sampai selesai apabila ingin mengetahui metode apa saja yang harus dilakukan dalam penelitian.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data
researchgate.net

Terutama untuk mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya, harus tahu metode pengumpulan data. Untuk mahasiswa sendiri biasanya metode penelitian ini menjadi mata kuliah wajib.

Ini bertujuan agar mahasiswa tidak kebingungan lagi ketika ingin mengerjakan tugas akhir mereka. Pembahasan metode penelitian yang diajarkan di kelas biasanya sudah sangat lengkap, tidak hanya teknik pengumpulan data saja.

Apabila Anda lupa teknik pengumpulan data itu seperti apa, dan ingin mengingatkan apa yang sudah dipelajari sebelumnya, kami akan mengingatkan sedikit kepada Anda.

Teknik pengumpulan data adalah cara atau prosedur yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan tujuan tertentu. Anda harus tahu ada perbedaan teknik pengumpulan data kualitatif dan data kuantitatif.

Meskipun ada yang sama, tetap ada perbedaan dalam pelaksanaannya. Jadi Anda tidak bisa sembarangan menggunakan teknik pengambilan data secara sembarangan.

Jika Anda menempatkan teknik pengambilan data tidak pada tempatnya, ketika analisis data dan penarikan kesimpulan kemungkinan Anda akan mengalami kesulitan. Hasil yang di dapat pun kemungkinan juga kurang valid.

Ada beberapa cara pengumpulan data yang bisa digunakan oleh peneliti agar didapatkan informasi yang valid. Anda mungkin sudah tidak asing dengan cara yang akan kami paparkan ini, tetapi memang inilah cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan informasi valid terkait suatu permasalahan atau peristiwa.

Berikut beberapa teknik pengumpulan data yang biasanya digunakan untuk penelitian.

1. Teknik pengumpulan data wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada subjek penelitian.

Dulu wawancara biasanya dilakukan dengan bertatap muka langsung dengan subjek, tetapi seiring perkembangan teknologi, wawancara tidak hanya dilakukan dengan tatap muka saja, tetapi juga bisa dilakukan melalui media komunikasi, seperti telepon, email, skype, dan masih banyak lagi.

Sebelum melakukan wawancara biasanya seorang peneliti akan membuat draf pertanyaan terlebih dahulu. Draf pertanyaan yang dibuat juga tidak bisa sembarangan, harus sesuai dengan topik penelitian yang dituju.

Salam penelitian draf pertanyaan tersebut juga harus divalidasi ahli. Layak atau tidaknya pertanyaan yang akan diajukan tergantung dari pendapat ahli tersebut.

Biasanya ahli akan memberikan masukan-masukkan pertanyaan-pertanyaan agar didapatkan hasil maksimal. Wawancara dikategorikan menjadi 2, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pembahasan lebih lanjut akan kami uraikan dalam pembahasan berikut ini!

a. Wawancara terstruktur

Yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang jelas. Jadi sebelum mengadakan wawancara peneliti akan membuat draf pertanyaan serinci mungkin untuk ditanyakan kepada subjek wawancara.

Informasi apa yang dibutuhkan, sudah ditulis lengkap dalam draf pertanyaan yang dibuat. Jadi peneliti tidak akan kebingungan mencari pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek penelitian.

Wawancara dengan jenis seperti ini akan memudahkan proses wawancara, terutama jika peneliti belum begitu ahli dalam melakukan penelitian, disarankan untuk menggunakan teknik wawancara terstruktur, agar data yang didapatkan lengkap. Sehingga akan memudahkan peneliti ketika melakukan analisis data.

b. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara ini bisa dikatakan wawancara bebas, artinya peneliti tidak terikat dengan ketat pada draf pertanyaan yang dibuat sebelum wawancara. Meskipun tidak ada draf pertanyaan terperinci seperti pada teknik wawancara terstruktur, tetapi peneliti tetap harus membuat pedoman wawancara.

Pedoman wawancara tersebut hanya berisi poin-poin yang akan ditanyakan nantinya ketika wawancara. Ini bertujuan agar wawancara yang dilakukan tidak melebar dari pokok bahasan. Untuk pertanyaan lebih lanjutnya bisa dikembangkan oleh peneliti sendiri ketika wawancara.

Ketika wawancara ada hal menarik yang peneliti dapatkan, bisa dikonfirmasi lebih lanjut ke subjek wawancara. Asalkan jangan terlalu jauh meninggalkan topik penelitian yang Anda bahas.

2. Teknik pengumpulan data observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara langsung keadaan atau situasi dari subjek penelitian. Data hasil observasi bukan hanya dilihat dari sikap subjek penelitian saja, tetapi ada banyak faktor yang harus diperhatikan.

Bisa dikatakan observasi ini merupakan teknik penelitian yang sangat kompleks, karena tidak hanya terpaku pada satu fenomena saja.

Teknik observasi lebih cocok apabila digunakan untuk penelitian terkait gejala-gejala alam, perilaku manusia, dan lainnya. Teknik ini juga sangat cocok untuk mencari data-data yang subjek penelitiannya tidak terlalu besar, jadi subjek penelitiannya spesifik.

Teknik observasi dalam pengumpulan data sendiri dikategorikan menjadi 2 bagian, yaitu participan observation dan non participan observation. Penjelasan lebih lanjutnya akan kami paparkan dalam pembahasan berikut ini.

a. Participan observation

Merupakan teknik pengumpulan data yang penelitinya terlibat langsung dengan kehidupan subjek penelitian. Peneliti ikut dan merasakan langsung situasi dan keadaan dari subjek penelitian, tidak hanya mengamati dari jauh saja. Teknik penelitian seperti ini sangat cocok digunakan untuk penelitian terkait hubungan sosial antar suatu masyarakat.

Banyak sekali peneliti yang menggunakan teknik ini agar didapatkan data yang lebih valid. Jika hanya mengamati dari jauh tanpa mau merasakan kehidupan yang dialami subjek, bisa saja seorang peneliti salah mengartikan apa yang dilihatnya, terkadang apa yang dilihat memang tidak sama dengan kenyataan yang sebenarnya.

b. Non participan observation

Jika participan observation penelitian terlibat langsung dengan kegiatan atau proses yang dialami oleh subjek penelitian, maka tidak dengan non participan observation.

Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan peneliti mengamati subjek yang ditelitinya, tetapi ia tidak ikut dalam kegiatan atau proses dari apa yang ditelitinya.

Kedua teknik observasi ini sama baiknya, baik participan observation maupun non participan observation asalkan di tempatkan tepat pada tempatnya. Jadi ada yang peneliti harus ikut terlibat langsung dengan proses yang ditelitinya dan ada juga yang bisa diamati tanpa harus terlibat langsung.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk antara satu dengan lainnya, semua sama baiknya dan data yang akan didapatkan nantinya juga bisa dipertanggungjawabkan.

3. Teknik pengumpulan data angket (kuesioner)

Anda tentu sudah sangat familiar dengan kata angket atau kuesioner. Di kampus atau Perguruan Tinggi (PT), setiap awal semester, tepatnya sebelum mengisi rencana studi untuk semester tersebut, mahasiswa diharuskan untuk mengisi kuesioner.

Biasanya kuesioner yang di isi oleh mahasiswa di kampus mengenai pelayanan kampus, fasilitas, hingga kualitas dosen.

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada subjek penelitian terkait topik yang diteliti.

Teknik ini akan sangat efektif apabila peneliti mengetahui benar variabel yang ingin diukur dan keinginan yang diharapkan oleh responden atau subjek penelitian.

Jika observasi lebih efektif apabila digunakan jika subjek penelitiannya tidak terlalu besar, maka tidak demikian dengan teknik pengumpulan data angket atau kuesioner.

Kuesioner bisa digunakan untuk mengumpulkan data dari responden atau subjek penelitian yang jumlahnya sangat banyak sekalipun. Bahkan juga bisa digunakan untuk mengumpulkan data dari responden yang tersebar di banyak wilayah.

Apabila dilihat dari bentuk pertanyaannya, kuesioner dibedakan menjadi 2, yaitu kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertutup yaitu pertanyaan tertulis yang sudah disertai dengan pilihan jawaban untuk respondennya. Jadi ketika menjawab pertanyaan yang ada di kuesioner tersebut, responden harus memilih jawaban yang sudah disediakan.

Sedangkan kuesioner terbuka yaitu pertanyaan tertulis yang jawabannya diisi sendiri oleh subjek penelitian. Jadi peneliti hanya menyediakan pertanyaan-pertanyaan, selanjutnya jawabannya subjek penelitian sendiri yang menentukan (seperti pertanyaan uraian).

Namun jangan salah, seiring perkembangan zaman, saat ini kuesioner sudah tampil dalam bentuk yang lebih progresif, yaitu pertanyaan tertulis untuk responden disertai dengan pilihan jawaban dan kolom untuk mengisi jawaban sesuai dengan keinginan responden. Jadi kombinasi antara kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup.

4. Teknik pengumpulan data studi pustaka

Pengumpulan data selanjutnya yaitu dengan melakukan studi pustaka. Studi beberapa pustaka ini dilakukan untuk melakukan analisis terhadap topik permasalahan yang ingin diteliti.

Pengumpulan data seperti ini sangat cocok untuk jenis penelitian studi pustaka. Jadi data dalam penelitian studi pustaka tersebut diambil dari dokumen, arsip, atau buku-buku.

Tetapi bukan berarti jenis penelitian yang bukan studi pustaka tidak memerlukan pustaka. Tetap perlu, tetapi kadarnya tidak sedetail penelitian studi pustaka.

Tanpa studi pustaka, Anda tidak mungkin bisa menganalisis sebuah data dengan benar. Semua pasti perlu patokan, jadi analisis dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk membaca data dan fenomena yang akan diteliti.

Studi pustaka sendiri terbagi menjadi 2 kategori, yaitu dokumen primer dan dokumen sekunder. Penjelasan lebih lanjutnya akan kami uraikan dalam pembahasan berikut ini!

  • Dokumen primer
    Yaitu dokumen yang ditulis langsung pelaku kejadian atau seseorang yang mengalami suatu peristiwa secara langsung, contohnya yaitu buku autobiografi.
  • Dokumen sekunder
    Yaitu dokumen yang ditulis berdasarkan laporan, peristiwa, atau cerita orang lain, contohnya yaitu buku biografi.

Contoh Pengumpulan Data

Contoh pengumpulan data
kemenkumham.go.id

Setelah Anda mengetahui jenis-jenis data dan teknik pengumpulan data, kami juga akan memberikan contoh data penelitian kepada Anda. Berikut beberapa contoh data dalam penelitian yang perlu Anda tahu.

Rekaman hasil wawancara

Biasanya peneliti akan menggunakan bantuan alat perekam ketika mereka melakukan wawancara. Biasanya peneliti hanya mencatat poin-poin pentingnya saja, tetapi secara keseluruhan informasi wawancara disimpan dalam rekaman.

Rekaman wawancara ini digunakan untuk membantu mengingatkan peneliti informasi apa saja sudah didapatkan selama wawancara tersebut. Ingatan manusia itu terbatas, jadi digunakan alat perekam ini untuk mengantisipasi kekeliruan data.

Lembaran hasil angket

Setelah angket disebarkan, maka akan didapatkan data yang berupa tanggapan responden yang sudah dituliskan dalam angket tersebut.

Tanggapan-tanggapan yang diberikan oleh responden di dalam lembar angket itulah yang dinamakan dengan data penelitian.

Hasil catatan lapangan

Selama proses penelitian biasanya seorang peneliti akan memiliki catatan tersendiri. Catatan ini berisi informasi apa yang yang ia dapatkan selama proses observasi, wawancara, penyebaran angket, dan studi pustaka.

Melakukan pencatatan selama kegiatan penelitian bertujuan agar informasi penting yang didapatkan selama penelitian tidak ada yang terlupakan.